Selasa, 17 Januari 2012

TABULAMPOT JAMBU AIR ; Banyak Varian, Mudah Berbuah

ini merupakan artikel majalah Flona edisi 47/III Januari 2007, waktu itu Wartawan Flona, mas Rudi datang ke kebun saya di Bogor untuk meliput tanaman jambu air berikut artikelnya yang saya scan langsung dari Flona
taufik_flona1_mediumJambu air merupakan pilihan tepat bagi para pecinta tanaman buah pemula. Tanaman ini tak terlampau sulit dirawat. Jambu air termasuk paling mudah di­antara jenis buah lain. Dengan per­awatan yang tidak terlalu ribet, jambu air bisa berbuah lebat. “Asalkan kena panas, terus saja muncul bunga lantas jadi buah. Makanya akan lebih prima jika ditanam di dataran rendah yang banyak matahari,” terang pecinta tabu­lampot tinggal di Bogor, Jawa Barat. Meski begitu, bukan berarti jambu air tak cocok ditanam di daerah ber­curah hujan tinggi. Buktinya jambu air yang ditanam Taufik Hidayat tetap ra­jin berbuah. “Jambu air sebenarnya bu­kan tanaman yang takut air kok. Tetapi tetap harus mendapat sinar matahari supaya bisa berbuah,” ujar Taufik.
SEMPROT SITOKININ
Menurut Taufik, buah yang mengan­dung banyak air itu membutuhkan banyak air. Makanya sebaiknya disiram setiap hari, kecuali kalau hujan tu­run cukup lebat. Di tempat yang sulit mendapat pasokan air, alumni Fisika Universitas Indonesia ini punya sedikit trik sederhana. “Tutup permukaan me­dia dengan jerami padi kering agar air tidak mudah menguap,” sarannya.
taufik_flona2_mediumMedia tanam yang dipakai untuk tabulampot (tanaman buah dalam pot) harus sesuai dengan kondisi iklim. Tau­fik Hidayat menyarankan media yang cukup porus untuk daerah bercurah hujan tinggi. “Saya hanya pakai sedikit tanah karena sering hujan. Kompo­sisinya dua bagian sekam, dua bagian pupuk kandang dan satu bagian ta­nah,” ujarnya.
Agar tanaman tumbuh subur laku-kan pemupukan rutin. Sebelum masuk masa generatif, lakukan pemupukan dengan nitrogen tinggi. Kalau mau di­bungakan, ganti dengan pupuk berka­dar P tinggi. “Saya tambahkan semprot hormon sitokinin untuk merangsang munculnya bunga. Saya masih belum paham ciri tanaman akan masuk masa berbunga. Paling mudah kalau sudah banyak pa­nas, karena umumnya jambu air akan terangsang untuk berbunga,” ujarnya.
KANCING TERMUDAH
Selain mudah dibuahkan, jambu air terkenal punya banyak varietas. Puluh­an varietas jambu air beredar di pasar­an. Taufik Hidayat, sudah mengoleksi lebih dari 40 varietas jambu air di “ke­bun hobi” tak jauh dari rumahnya.
“Berdasarkan nama varietas yang saya dapat dari nurseri ketika beli, total ada 45 varietas. Memang tak semuanya sudah berbuah, jadi belum bisa dilihat perbedaan masing-masing varietas,”
uj arnya.
Beragam varietas, beragam pula bentuk dan warna buahnya. Itu pula yang lantas menjadi alasan ketertarik­an Taufik untuk mengoleksi jambu air. “Namanya juga koleksi, pasti pengin­nya banyak dan beragam. Lebih tertarik lagi karena ternyata tingkat kesulitan­nya sangat beragam,” lanjutnya.
Berdasarkan pengalamannya, jam­bu air kancing baik merah maupun putih adalah jenis yang paling mudah berbuah. Meski ukuran ahnya kecil biasanya cukup lebat. Makanya sangat cocok buat pemula. Apalagi sosoknya kecil sehingga sangat pas untuk peng­hias teras atau halaman. Sayangnya buah jambu air kancing biasanya tidak manis dan lebih cocok untuk hiasan.
Jenis yang lebih sulit, tetapi masih cukup rajin berbuah adalah lilin dan cincalo. Kedua jenis jambu itu cukup
beken dan banyak dibudidayakan untuk produksi buah. Varietasnya juga cukup banyak, jenis Min punya varian merah, hijau, super, jumbo. Sementara cincalo ada yang hijau, merah sampai bangkok. “Jambu air citra yang paling sulit ber­buah. Bertahun-tahun saya rawat masih belum berbuah juga,” terang Taufik.
Nah, mau pilih yang mana?
Hindari Rontok Buah
Salah satu masalah yang sering menimpa pehobi jambu air adalah rontok bunga. Menurut Taufik Hidayat, problem itu menimpa terutama karena pohon kekurangan air. Sehingga cara pencegahannya dengan penyiraman rutin. “Harus rutin menyiram setiap hari. Meskipun hujan sekalipun sebaiknya tetap disiram, apalagi kalau enggak deras,” sarannya.
Penyiraman intensif bisa dikurangi saat bunga sudah mengalami polinasi (penyer­bukan) can membentuk bakal buah. Meski begitu tetap harus rutin disiram kalau me­dia sudah mulai kering. “Sebenarnya tetap disiram intensif juga bagus. Sekaligus agar buahnya lebih besar. Tapi seteiah mendekati matang, volume (penyiraman) dikurangi,” ujarnya.
Tapi pilih waktu yang tepat untuk menyiram. Pasalnya kalau salah menyiram bisa menyebabkan buah pecah. Terjadi kalau rnenyiramnya terlalu siang. Menurut Taufik, saat siang hari tekanan aliran air dalam batang ter!alu kuat. “Tidak sebanding dengan elastisitas kulit buah, makanya buah jadi pecah. Sebaiknya sebelum jam 8 pagi atau setelah jam empat sore. Sebaiknya tetap, pagi terus atau sore terus,” anjurnya. Jangan lupa membungkus buah jambu air. Ini untuk menghindari serangan lalat buah. Bahan­nya bisa macam-macam, semisal plastik atau kertas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar